| Penanaman Cabai oleh Karang Taruna Desa Mereng |
Julukan ‘negeri agraris’ barangkali
memang tepat untuk disematkan untuk Negara Indonesia. Alasannya bahwa ternyata sektor pertanian inilah yang diyakini
menjadi penyelamat pada krisis finansial 1998 maupun krisis akibat pandemi
covid-19. Sektor
pertanian merupakan satu-satunya sektor yang mengalami pertumbuhan positif pada saat semua sektor yang lain
mengalami pertumbuhan negatif. Apalagi
sumber daya alam Indonesia didominasi oleh lahan-lahan subur bagi sektor pertanian.
Persoalannya kemudian adalah bagaimana sumber daya manusia di sektor pertanian
ini?
Berdasarkan Statistik
Ketenagakerjaan Sektor Pertanian yang diterbitkan Pusat Data dan Sistem
Informasi Kementerian Pertanian menyatakan bahwa pada 2020 proporsi tenaga
kerja di sektor pertanian yang berlatar belakang pendidikan dasar sebesar 83%,
pendidikan menengah sebesar 15%, dan pendidikan tinggi hanya sebesar 2%. Selain itu, dari segi usia terlihat adanya penuaan tenaga kerja di sektor pertanian. Dominasi petani tua
dengan usia di atas 45 tahun sebanyak 71% dan menyisakan petani berusia kurang
dari 45 tahun sebesar 29%. Hal ini dipengaruhi oleh citra sektor pertanian yang
kurang menarik bagi generasi muda dan dianggap kurang memberikan hasil yang memuaskan sehingga menurunkan minat untuk menjadi petani. Selain itu, pada
umumnya orang tua di desa juga tidak menginginkan anak-anak mereka bekerja di
desa sebagai petani sebagaimana pekerjaan mereka saat ini.
Krisis petani muda inilah yang menjadi hambatan terhadap
produktivitas pertanian, daya saing pasar, kapasitas ekonomi perdesaan, dan
bermuara pada ancaman terhadap ketahanan pangan serta keberlanjutan sektor
pertanian. Dampak lain
dari krisis petani muda ini, lahan-lahan produktif semakin berkurang karena
beralih fungsi menjadi lahan pekarangan yang arahnya untuk diperjualbelikan.
Menimbang persoalan sektor pertanian
tersebut, Karang Taruna Desa Mereng merumuskan satu program kerja Gerakan Tani
Milenial yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan
generasi muda dalam bidang pertanian. Melalui Bidang Lingkungan Hidup dan
Pariwisata, program ini mulai dijalankan dengan menanam bibit cabai sebanyak 720
polybag di atas lahan seluas 720 m2 pada 20 Februari 2022. Lahan
yang terletak di sebelah barat Pondok Pesantren Alkarimi Desa Mereng Kecamatan
Warungpring ini dikelola oleh Untung Santoso, yang kebetulan dirinya menjadi
Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Pariwisata Karang Taruna Desa Mereng.
Menurut Untung
Santoso, kondisi tanah di Desa Mereng dalam 10 tahun terakhir ini mengalami
kerusakan. Penyebabnya adalah penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus sehingga membuat tanah mengeras dan kehilangan porositasnya. Penggunaan pupuk kimia ini meningkatkan kadar asam dalam tanah. Dia juga menegaskan bahwa untuk program Gerakan Tani
Milenial Karang Taruna Desa Mereng ini, pupuk yang dia gunakan adalah kombinasi
pupuk organik dan pupuk anorganik. Tujuannya adalah untuk mengembalikan
kesuburan tanah serta memangkas biaya operasional dengan hasil yang diharapkan
maksimal.
Dalam kesempatan
ini, Ketua Umum Karang Taruna Desa Mereng, Yosi Muhaemin meyakini bahwa sektor
pertanian menjadi salah satu peluang usaha bagi pemuda untuk bisa produktif di
desa. “Program ini menjadi pilot project, untuk membuktikan kepada
masyarakat bahwa generasi muda juga bisa menjadi petani sukses, yang
menggunakan ilmu pengetahuan modern untuk memperoleh hasil yang optimal. Pemuda
tidak harus merantau kesana-kemari meninggalkan desanya. Cukup di desa sendiri,
bisa menghasilkan dan bisa berperan aktif membangun desanya,” tegasnya.
Lebih lanjut
ia menyatakan bahwa program Gerakan Tani Milenial ini juga menjadi salah satu
upaya menopang program ketahanan pangan nasional di masa pandemi. Selain itu,
agar program ini berkelanjutan, Karang Taruna Desa Mereng berencana
menyelenggarakan pelatihan-pelatihan bagi para pemuda dalam bidang pertanian
dengan menghadirkan narasumber-narasumber milenial.
Tonton videonya dan jangan lupa subscribe:
0 Komentar